Kamis, 12 April 2012


PERSPEKTIF GLOBAL DARI VISI GEOGRAFI, SEJARAH, ANTROPOLOGI, SOSIOLOGI DAN EKONOMI
DI
S
U
S
U
N
OLEH
KELOMPOK III
MURSYIDAH                   (1011100679)
HASNIDAR            (1011100688)
CUT PUTRI            (1011100668)
MULIA                            (1011100713)
Dosen Pembimbing,  Ruslan M.Pd, S.Pd



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
BANDA ACEH
2012
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………     i
A.    Latar Belakang………………………………………………………....        i
B.     Tujuan…………………………………………………………………..       ii
C.     Manfaat………………………………………………………………...        iii
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………….     1
A.    Perspektif Global Dari Visi Geografi…………………………………..       1
B.     Perspektif Global Dari Visi Sejarah…………………………………….       2
C.     Perspektif Global Dari Visi Antropologi……………………………….       3
D.    Perspektif Global Dari Visi Sosiologi………………………………….        5
E.     Perspektif Global Dari Visi Ekonomi…………………………………..       5
BAB III PENUTUP…….……………………………………………………………     9
A.    Kesimpulan……………………………………………………………..       9
B.     Saran…………………………………………………………………....       9
DAFTAR GLOSSARY…………………………………………………….....     
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………     


KATA PENGANTAR
وَبَرَكَاتُهُ اللهِ وَرَحْمَةُ عَلَيْكُمْ السَّلاَمُ

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.


                                                                                                                               
                                                                                                                                                                                                                                                                                Banda aceh, april 2012


BAB I

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Telah kita ketahui bahwa perspektif global yaitu suatu cara pandang dan cara berpikir terhadap masalah dan kejadian-kejadian baik dari segi kepantingan global, sejarah, ekonomi, maupun budaya.


B.TUJUAN

·         Dapat mempelajari dan mengetahui hubungan kelompok-kelompok umat manusia dan lingkungan manusia dalam hubungannya satu sama lain seperti hubungan antara manusia terutama dalam lingkungan yang terbentuk oleh manusia sendiri atau lingkungan sosial.
·         Dapat mempelajari dan mengetahui proses-proses sosial budaya di masyarakat dan perubahan pola kehidupan bangsa.
·         Dapat mempelajari dan mengetahui tentang suatu pengalaman masa lampau, dan dapat memprediksi kejadian-kejadian yang akan datang.
·         Dapat mengenal tokoh-tokoh, bangunan-bangunan, perang, pertemuan, internasional dan peristiwa-peristiwa bersejarah yang memiliki dampak luas terhadap tatanan kehidupan global.
·         Dapat mempelajari dan mengetahui tentang fenomena, proses dan masalah keruangan permukaan bumi, baik masa lampau maupun masa sekarang.
·         Dapat mempelajari objek kajian yang melekat di permukaan bumi.
·         Dapat menetahui peluasan kota dan penambahan serta pertumbuhan penduduk.
·         Siswa dapat mengkaji bagaimana orang perorangan dan kelompok-kelompok masyarakat menentukan pilihan.
·         Dapat mengkaji penggunaan sekarang(hari ini) dan penggunaan hari esok (masa depan).


C.MANFAAT

Ø  Agar dapat memahami dan dapat mempelajari lebih banyak tentang materi dan yang berkaitan dengan perspektif global dari visi  geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi dan antropologi
Ø  Agar menambah dan memperluas pengetahuan tentang dunia, keruangan, masa lampau, kebudayaan, dan sumber daya alam.
Ø  Agar dapat melatih kepekaan dan kepedulian terhadap perkembangan dunia dengan segala aspeknya.
Ø  Dapat mendorong siswa untuk mempelajari lebih banyak tentang materi dan masalah dan tatangan , baik ekonomi, sosial, budaya politik maupun lingkungan hidup.






BAB II

PERSPEKTIF GLOBAL DARI VISI GEOGRAFI, SEJARAH, ANTROPOLOGI, SOSIOLOGI DAN  EKONOMI

            Sebelum kita membahas visi-visi tersebut, terlebih dahulu kita membahas apa yang dimaksud dengan perspektif global. Perspektif global adalah suatu cara pandang dan cara berfikir terhadap suatu masalah, kejadian, kegiatan daei sudut kepentingan global, yaitu dari sisi kepentingan global, yaitu dari posisi kepentingan dunia atau internasional. Oleh karena itu, sikap dan perbuatan kita juga diarahkan untuk kepentingan global.

A.Perspektif Global Dari Visi Geografi
Geografi adalah ilmu keruangan yang mengkaji berbagai fenomena dalam kontek keruangannya. Ruang yang dikonsepkan dalam geografi yaitu permukaan bumi yang tiga dimensi terdiri atas muka bumi yang berupa darah dan perairan serta kolom udara diatasnya. Ruang permukaan bumi ini secara bertahap ukuran dan jaraknya mulai dari tingkat local, regional sampai ketingkat global. Oleh karena itu perspektif geografi adalah perspektif keruangan yang bertahap dari perspektif local, regional sampai ke perspektif global.
Perspektif geografi atau perspektif keruangan adalah suatu kemampuan memandang secara mendalam berkenaan dengan fenomena, proses, dan masalah keruangan permukaan bumi, baik masa lampau, saat ini, terutama untuk masa yang akan dating. Pendekatan yang dapat diterpkan pada perspektif keruangan ini, yaitu pendekatan sejarah dan kemampuan mempredeksi. Dalam ruang lingkup kajian perspektif keruangan ini berkembang mulai dari perspektif local, perspektif regional, sampai perspektif global, perjhatikan, amati, dan hayati serta perkembangan yang terjadi di tempat anda dari waktu ke waktu. Bagaimana keadaan permukiman, jalan, pertanian, pengairan, perdangangan, dan keadaan penduduk setempat.
            Melalui proses pengamatan perspektif local, anda dapat menyaksikan bahwa perkampungan yang satu dengan yang lebih luas dari perkampungan lain-lainnya, yaitu kerena adanya jalan, alat angkutan, atau transportasi, juga karena arus manusia dan barang. Disini terjadi proses social ekonomi dalam bentuk interaksi antar penduduk (manusia).
            Telah anda mengamati dan menghayati meluasnya perkampungan, anda juga dapat mengamati serta menghayati meluasnya suatu kota dari waktu ke waktu. Anda dapat mengevaluasi perkembangan kota yang bersangkutan dari waktu ke waktu. Selain areal atau kawasannya yang makin luas, juga isi kota itu mengalami perkembangan. Pemukiman penduduk, tempat perbelanjaan, pasar, jaringan jalan, jumlah penduduk, dan seterusnya mengalami perubaha serta perkembangan. Bahkan anda memperhitungkan masa yang akan datang atau memprediksi bahwa kota-kota kecil itu akan bersambung satu sama lain dan akan membentuk kota yang lebih besar dari semula. Dalam proses perluasan kota dan penambahan serta pertambahan penduduknya, telah terjadi proses yang dikenal sebutan urbanisasi.
            Urbanisasi sebagai suatu proses, menurut WJ. Waworoentoe, A Syarif Puradimandja, Utom Rustam (Prisma, 1972:7-12 ), terjadi karena adanya tiga yang berkaitan satu sama lain. Tiga peristiwa yang termasuk dalam proses urbanisasi itu yaitu.
1.      Perpindahan penduduk dari perdesaan ke perkotaan
2.      Perluasan area atau kawasan kota
3.      Perubahan cara hidup sebagai orang kota

B.Perspektif Global Dari Visi Sejarah
Emmanuel Kant telah mengungkapkan pada abad XVIII bahwa sejarah dan geografi merupakan ilmu dwitunggal, artinya jika sejarah mempertanyakan suatu peristiwa itu terjadi, pengngkapan itu masih belum lengkap, jika tidak dipertanyakan dimana tempat terjadinya. Dalam hal ini, dimensi waktu dengan ruang saling melengkapi. Dengan dipertanyakan waktu dan tempatnya akan karakter peristiwa itu menjadi dan jelas adanya. Dengan kata lain perspektif sejarah sama dengan perspektif waktu, terutama waktu yang telah lampau. Perspektif sejarah suatu peristiwa, membawa citra kepada kita tentang suatu pengalaman masa lampau yang dapat dikaji hari ini, untuk memprediksi kejadian-kejadian yang akan datang. Perspektif global dari sudut pandang sejarah tentang tokoh-tokoh, bangunan-bangunan,   perang, pertemuan, internasional, dan peristiwa-peristiwa sejarah yang memiliki dampak luas terhadap tatanan kehdupan global, dapat dimunculkan dalam pendidikan sebagai acuan trnspormasi budaya serta pengembangan kualitas sumber daya manusia generasi muda untuk memasuki kehidupan global di hadapannya
.
C.Perspektif Global Dari Visi Antropologi
Antropologi, khususnya antropologi budaya yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1990: 11-12) dikatakan sebagai pengganti ilmu budaya merupakan studi tentang manusia dengan kebudayaannya. Sudut pandang antropologi terhadap perspektif global terarah pada keberadaan dan perkembangan budaya denga kebudayaan dalam kontek global yang artinya mengamati, menghayati dan memprediksi perkembangan kebudayaan secara menyeluruh yang aspek serta unsure-unsurnya itu berkaitan satu sama lain terintregrasi dalam kehidupan manusia. Sesuai dengan perkembangan antropologi mengalami perubahan-perubahan yang tidak dapat diprediksi. Hal ini sejalan dengan pengukuhan dari Prof. Laksono yang berasal dari Universitas ternama.
            Menurut Prof. Paschalis Maria Laksono, M.A., jalan yang dipaparkan memang terbatas pada isu identitas budaya, yang mencakup isu integrasi nasional dan perubahan social budaya. Memang hingga sekarang soal ini masih tetap krusial. Apalagi drngan terjadinya interkoneksi antara komunitas-komunitas tempat kita dengan dunia akibat globalisasi capital, ujarnya.
            Dalam pidato berjudul’ peta jalan antropologi Indonesia abad ke dua puluh satu: memahami invisibilitas (budaya) di era globalisasi kapital’, Laksoo memaparkan pendekatan yang kemudian ditawarkan ialah melalui ranah kognitif dan simbolik dengan cara-car yang reflektif parsipatoris. Dengan demikian, antropologi Indonesia pada abad XXI di tuntut bekerja pada isu-isu praktis dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, bersama dengan warga komunitasnya berupaya pula mengembangkan penelitian mengidentifikasi masalah disekelilingnya, sekaligus mengidentifikasi diri masyarakat dan antropologis. Dalam hal ini antropologis ikut bersama masyarakat, berpolitik membangun sejarah baru, kata pria kelahiran Yogyakarta, 6 April 1953 ini.
            Antropologi menjadi ilmu yang terlibat dalam proses-proses social budaya di masyarakat. Oleh karena itu dari berbagai pengalaman antropologi sebaiknya tetap focus pada isu-isu strategis yang berkaitan dengan antologi identitas budaya, yakni pada proses bagaimana kesadaran diri yang dialektis menyadarkan pada rantai komunikasi yang jumbuh. Antara saya dan kamu yang saling memberi pengakuan nyata.
            Melalui pemetaan, lanjut Laksono memperjelas betapa komplek tantangan antropologi pada masa-masa yang akan datang. Bahkan, dapat disasikan betapa komunitas-komunitas tempatan di garis depan globalisasi terus mendapat tekanan dari modal, yang secara terus menerus mengapresiasi sumber-sumber alam.
            Berdasarkan artikel di atas dapat disimpulkan bahwa antropologi akan terus berkembang sampai sekarang pada akhirnya berada pada masa globalisasi ini. Pada dasarnya antropologi tidak terbebas dari suatu nilai akan tetapi dengan globalisasi yang menganggap dunia tanpa batas akan sangat berpengaruh. Disisi lain perspektif global jika dikaitkan dengan antropologi mempunyai dampak positif bagi kekayaan khasanah budaya suatu bangsa serta globalisasi juga dapat mempercepat pola kehidupan bahasa. Misalnya melahirkan pranata-pranata atau lembaga-lembaga social baru seperti lembaga suadaya masyarakat (LSM), organisasi profesi di pasar modal. Perkembangan pakaian seni dan ilmu pengetahuan turut meramaikan kehidupan masyarakat.         
Akan tetapi tidak bias dipungkiri dalam bidang social dan budaya menimbulkan dampak negatif dari globalisasi antara lain adalah meningkatkan individualisme, perubahan pada pola kerja, terjadinya pergeseran nilai kehidupan dalam masyarakat. Saat ini dikalangan generasi muda banyak yang seperti kehilangan jati dirinya. Mereka berlomba-lomba meniru gaya hidup alabarat yang tidak cocok jika diterapkan di indonesia, seperti berganti-ganti pasangan, konsumtif dan hedonisme tidak sesuai dengan  nilai-nilai yang berlaku di Negara kita. Untuk itu sebagai generasi muda penerus bangsa kita harus menyadari keberadaan nilai yang masih berlaku di Negara kita. Kita harus pandai di dalam menyeleksi budaya asing yang masuk ke Negara kita. Jika budaya asing tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa kita yang berdasarkan pancasila, kita berusaha bersifat terbuka dalam menerima kebudayaan tersebut. Akan tetapi jika tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita harus bersuara lantang untuk menolaknya.

D. Perspektif Global Dari Visi Sosiologi
Menurut Roger F. Ilmu politik mempelajari Negara, tujuan-tujuan dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu,  hubungan antara Negara dan warga Negaranya serta dengan Negara-negara lain.
Menurut konsep ini ilmu politik mengadakan studi mengenai Negara dengan tujuannya, lembaga-lembaga yang melaksanakan tujuan, hubungan Negara dan warganya, serta hubungan Negara dengan Negara-negara yang lain. Dalam perspektif global, aspek hubungan dengan Negara lain merupakan hal yang pokok.
            Menurut Frank H.Hankins (Fairch, H.P.dkk, 1982: 302), sosiologi adalah studi ilmiah tentang fenomena yang timbul akibat hubungan kelompok-kelompok umat manusia dan lingkungan manusia dalam hubungannya satu sama lain. Dalam sosiologi, objek yang menjadi sorotan utamanya yaitu hubungan antar manusia, terutama dalam lingkungan yang terbentuk oleh manusia sendiri, atau yang disebut lingkungan sosial.

E. perspektif global dan visi ekonomi
            Menuruh H.W. Arndt dan Gerardo P. Sicat (1991: 3). Ilmu ekoomi adalah suatu ilmiah yang mengkaji bagaimana orang dan kelompok-kelompok masyarakat menentukan pilihan. Menusia mempunyai keinginan yang tidak terbatas. Untuk memuaskan bermacam-macam keinginan yang tidak terbatas tersebut, tersedia sumber daya yang dapat digunakan. Berbagai sumber daya ini tidak tersedia dengan bebas. Karenannya, sumber daya ini langka dan mempunyai berbagai kegunaan alternative. Pilihan penggunaan dapat terjadi antara penggunaan sekarang (hari ini) dan penggunaan hari esok (masa depan).
Berdasarkan konsep tadi pembahasan ilmu ekonomi menyangkut berbagai aspek yang meliputi:
a.       Menentukn pilihan
b.      Keinginan yang tidak terbatas
c.       Persediaan sumber daya terbatas bahkan ada yang langka
d.      Kegunaan alternative sumber daya
e.       Penggunaan hari ini dan hari esok
Dari aspek-aspek yang telah dikemukakan tadi jelas bahwa perspektif ekonomi terkait dengan waktu, hari ini dan hari esok. Sedangkan apa yang diperspektifkan terutama berkenaan dengan keinginan yang cenderung tidak terbatas, persediaan sumber daya itu terbatas bahkan langka, dan adanya penggunaan alternative sumber daya.
Perspektif ke hari esok atau masa yang akan datang, terkait luas dengan pertumbuhan penduduk, kemajuan dan penerapan IPTEK dalam proses produksi serta distribusi, kebutuhan yang cenderung tidak terbatas kuantitasnya dan akhirnya persediaan sumber daya yang terbatasi bahkan langka. Sedangkan penggunaan sumber daya alternative, sangat berkaitan dengan IPTEK dan kecenderungan kebudayaan.
Dari perspektif kependudukan pada abad 7 Juli 1986, menurut perhitungan lembaga kependudukan dunia telah terjadi peristiwa penting dengan tercapainya angka lima Miliar jumlah penduduk dunia. Selanjutnya, berdasarkan lembaga yang sama, penduduk dunia bertambah satu juta tiap empat atau lima hari. Berdasarkan perkiraan lebih lanjut, pada tahun 2000, jumlah penduduk dunia ini akan mencapai 8 Miliar (Baruey, 1977-11). Angka-angka itu menunjukkan betapa cepatnya pertumbuhan penduduk dunia. Hal tersebut menjadi landasan perhitungan pertumbuhan kebutuhan manusia. Ketidak terbatasan kebutuhan itu, tidak semata-mata didasari oleh keinginan yang tidak terbatas namun juga dilandasi oleh pertumbuhan yang mau tidak mau harus dilayani oleh persediaan dan peningkatan produksi.
Anda telah mengetahui bahwa dari seldan jenis sumber daya, khususnya sumber daya alam, ada yang dapat terbarukan (tumbuh-tumbuhan, hewan) dan yang tidak dapat terbarukan (migas, batu-bara). Sumber daya yang sifatnya tidakterbarukan akan habis sekali pakai sehingga persediaannya makin terbatas. Sedangkan di pihak lain kebutuhan terus meningkat karena pertumbuhan penduduk, dan keinginan yang cenderung tidak terbatas. Kesenjangan ini bukan bersifat local atau regional, melainkan telah menjadi masalah global. Disini di tuntut “kiat-kiat” ekonomi untuk menciptakan keseimbangan antara konsumsi di satu pihak, dan produksi di lain pihak. Salah satu kiat itu bagaimana kemajuan dan penerapan IPTEK berupaya mencari jalan keluar dari masalah tadi.
Pernyataan David Turney (1972) bahwa, dilemma besar yang pokok saat ini yaitu bahwa penduduk dunia telah sampai pada ketergantungan terhadap teknologi untuk mempertahankan dan menompang kehidupan-kehidupan secara berkelanjutan. Namun selanjutnya, penerapan praktis teknologi dan intervensinya dalam menunjang kehidupan, cepat ataupun lambat akan merusak sumber daya alam. Dalam menghadapi dilema yang demikian, kehutanan kita manusia menjadi tiga kali lipat, yaitu pertama kita harus menguasai teknologi itu, kedua menstabilkan penduduk, dan ketiga mengembangkan tatanan sosial yang mampu hidup produktif dan sejahtera secara terpadu dengan mengekosistem yang seimbang. Coba anda hayati bahwa kita tidak dapat melepaskan diri dari pemanfaatan teknologi atau luas lagi pemanfaatan IPTEK. Namun juga anda amati dan hayati lingkungan sekitar yang rusak serta terkuras oleh penerapan dan pemanfaatan IPTEK itu. Masalah ini bukan lingkungan dan perekonomian yang hanya teradi secara local di tempat anda saja, melainkan telah menjadi masalah global.
Dari kutipan yang baru kita baca, itu dapat diketahui bahwa IPTEK bukan segala-galanya. Pada akhirnya, masalah global tadi berbalik kepada kita. Bagaiman kita mampu mengembangkan peranata sosial untuk mengendalikan IPTEK tadi sesuai dengan atas keseimbangan dan kelestarian. Perubahan dan pengembangan aspek-aspek yang bersifat fisik material saja, tidak memecah masalah. Oleh karena itu wajib dikembalikan kepada manusia sendiri, terutama akhlaknya, kesenjangan, kerusakan dan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan serta lingkungannya itu, harsus dikembalikan kepada manusia sendiri terutama kepada akhlaknya tadi.
Menurut pernyataan H.S.D. Cole (1973) kenyataan menunjukkan bahwa bukan hanya pencemaran udara oleh debu, pencemaran oleh zat kimia, pencemaran suara, pencemaran air dan tanah semata-mata, melainkan yang lebih penting adalah pencemaran moral. Hal-hal yang bertentangan dan tidak diindahkannya peraturan sebagai indicator dalam berbagai argumentasi kerusakan lingkungan yang menjadi sasar pertanyaan kemajuan ekonomi dan teknik.
Pencemaran moral dan penyimpangan-penyimpanagn dari aturan yang berlaku terhadap pengembangan serta pemanfaatan lingkunga “seolah-olah” diabaikan oleh karena itu H.S.D. Cole (1973) selanjutnya mengemukakan:
Kesinambungan renaisanse, rasionalisme, kapitalisme dan pemujaan serta penganjungan ilmu saja. Namun dewasa ini, keadaan yang demikian telah tercapai, apakah yang harus dilakukan selanjutnya? Cobalah hidupkan kembali kearifan dan kecintaan terhadap keindahan pada diri masing-masing serta disekitar kita. Hanyalah revolusi moral bukan revolusi sosial atau politik atau juga teknik, hanyalah revolusi moral yang dapat membimbng selama ini telah menghilang. 
Dalam kondisi global yang penuh dengan kesenjangan, masalah dan tantangan, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun lingkungan hidup, pengembangan dan pembinaan akhlak menjadi kunci penyelamatan perspektif global ekonomi barupa  perekonomian pasar bebas, beralihnya kawasan ekonomi maju dari Atlantik ke Pasifik, dan kebangkitan ekonomi Asia Afrika, kita bangsa Indonesia tidak akan kunjung rela. Penyiapan SDM generasi muda Indonesia menghadapi abad XXI dengan arus globalnya, wajib dirintis sedini mungkin. Sikap mental wiraswasta harus menjadi ciri SDM mendatang.

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Perspektif global adalah suatu cara pandang dan cara berpikir terhadap suatu masalah kejadian atau kegiatan dari sudut kepentingan global, dan mengkaji berbagai fenomena dalam konteks keruangan di permukaan bumi baik masa lampau, saat ini, baik dalam budaya ataupun kebudayaan, baik dalam satu Negara maupun dengan Negara-negara lain.

B. Saran-Saran

ü  Siswa dapat mempelajari dan mengetahui hubungan kelompok-kelompok umat manusia dan lingkungan manusia dalam hubungannya satu sama lain seperti hubungan antara manusia terutama dalam lingkungan yang terbentuk oleh manusia sendiri atau lingkungan sosial.
ü  Siswa dapat mempelajari dan mengetahui proses-proses sosial budaya di masyarakat dan perubahan pola kehidupan bangsa.
ü  Siswa dapat mempelajari dan mengetahui tentang suatu pengalaman masa lampau, dan dapat memprediksi kejadian-kejadian yang akan datang.
ü  Siswa dapat mengenal tokoh-tokoh, bangunan-bangunan, perang, pertemuan, internasional dan peristiwa-peristiwa bersejarah yang memiliki dampak luas terhadap tatanan kehidupan global.
ü  Siswa dapat mempelajari dan mengetahui tentang fenomena, proses dan masalah keruangan permukaan bumi, baik masa lampau maupun masa sekarang.


DAFTAR GLOSSARY

-          IPTEK
-          Kiat
-          Pranata
-          Dialektis
-          Jumbuh
-          Ranah
-          Simbolik
-          Reflektif
-          Invisibilitas
-          Khasanah
-          Konsumtif
-          Hedonisme
-          Lantang
-          Krusial
-          Interkoneksi
-          Sasar
-          Argumentasi


DAFTAR PUSTAKA 

Koentjaraningrat 2003, Pengantar Antropologi I. Jakarta : Rineka Cipta
Khor, Martin. 2003. Globalisasi Perangkap Negara-Negara Selatan. Yokyakarta.
            Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas.
Nursed Sumaartmadja. Kuswaya Wihardit. 1999. Perspektif Global. Universitas
            Terbuka.
Tye, Barbara Benham Tye. 1992. Global Education : A Study Of Social Change.
Umi Oktyari R. 1998. Perspektif Global . Jakarta : Departemen P & K Dirjen Dikti


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar